Wood Frog/Aaskan Frozen Frog (Rana sylvatica) merupakan spesies
katak yang memiliki habitat geografis luas hingga 69oN di dalam lingkaran
Arktik. R. sylvatica selama musim dingin hidup di daerah yang terpapar dengan
bagian dasar hutan dan membuatnya terdampak langsung terhadap suhu beku
(subzero temperature), namun hanya dua pertiga bagian air tubuhnya saja yang
membeku. Penelitian terdahulu mengenai proses adaptasi beku dari spesies di
daerah Fairbanks, Alska, Amerika Serikat mengindikasikan bahwa R. sylvatica
memiliki toleransi beku agar dapat bertahan hidup hingga suhu -18o
C. Saat proses hibernasi, katak ini terpapar suhu -10oC atau bisa
lebih rendah lagi. Spesies di daerah Great Lakes Region di Amerika Utara hanya
memiliki toleransi beku pada kisaran -3 hingga -6oC.
![]() |
Wood Frog/Alaskan Frozen Frog |
Kemampuan katak di daerah dingin
dalam hal adaptasi beku diduga karena adanya mekanisme cryoprotection. Dua
larutan osmolytes (senyawa yang mempengaruhi osmosis) berperan sebagai
cryoprotection pada katak, yakni urea dan glukosa. Penumpukan dua larutan ini
terjadi di dalam tubuh katak pada musim tertentu, disesuaikan dengan kondisi
lingkungan luar. Penumpukan urea akan terjadi di musim gugur dan awal musim
dingin, dan glukosa yang akan secara cepat dan dalam jumlah banyak dimobilisasi
dari cadangan glikogen di hati sebagai respons langsung terhadap pembekuan.
Amphibians mengatur kadar
intraseluler dari urea dengan cara mengatur produksi, penyerapan kembali, dan
pengeluarannya. Secara umum, penumpukan urea terjadi ketika stres osmotik sehingga menyebabkannya dapat toleran terhadap hyperuremia (kadar urea dalam
darah tinggi). Penumpukan urea umum terjadi pada hewan-hewan terestrial yang melakukan
hibernasi, di mana hewan ini memiliki kemungkinan mengalami stres osmotik karena
minimnya kelembapan tanah pada musim gugur dan kemudian tanah yang membeku pada
musim dingin akan mengurangi potensi air. Paparan terhadap suhu dingin akan
meningkatkan retensi urea dengan cara menekan laju eksresinya. Konsentrasi
fisiologis urea di dalam darah dapat meningkatkan viabilitas eritrosit beku
pada temperatur tertentu bergantung pada taraf toleransi suatu spesies.
Glukosa akan menumpuk di jaringan selama terjadi pembekuan somatik (pembekuan sel tubuh). Penumpukan glukosa berasal dari proses glikogenolisis di dalam hati yang nantinya akan dimobilisasi ke dalam sel ketika jaringan membeku. Penumpukan glukosa di kulit dan otot rangka sedikit karena merupakan bagian yang pertama kali membeku sehingga terisolasi dari aliran darah. Amphibians yang hidup di daerah dingin cenderung memiliki cadangan glikogen yang tinggi. Pemaksimalan jumlah cadangan glikogen ini merupakan salah satu ciri utama yang berkontribusi terhadap tingkat kelangsungan hidup Amphibi di musim dingin.
Cryoprotectant berupa urea dan glukosa yang digunakan oleh R. sylvatica memiliki sifat mudah larut dalam air, memiliki massa molekul rendah, permeabilitas tinggi, sehingga memudahkannya untuk masuk ke dalam sel. Kedua jenis cryoprotectant ini juga memiliki fungsi yang sangat penting dalam membantu proses termoregulasi pada saat hibernasi, yakni memiliki titik keseimbangan beku/meleleh yang sama. Sifat inilah yang menjadikan R. sylvatica dapat bertahan hidup di suhu dingin yang ekstrim karena kedua larutan yang menumpuk di dalam sel akan bekerja sama menurunkan titik keseimbangan beku cairan tubuh sehingga akan membatasi pembentukan es dan mempertahankan integritas dari membran dan makromolekul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar